Natuna, Here We Come

bendera-indonesia

            Setelah menunggu sekian lama, akhirnya hari ini datang. Tanggal 20 Juni 2014 akan menjadi hari bersejarah karena tim KKP Natuna IPB akan berangkat menuju Kepulauan Natuna, Riau. Wilayah perbatasan Indonesia yang terletak jauh diujung utara ini akan kami tinggali selama dua bulan kedepan. Ketika saya pamit pada orang-orang, mereka bertanya, “dimana itu Natuna? Sulawesi?”, saya sangat sedih karena ternyata banyak yang tidak tahu lokasi Natuna. Mungkin dapat dimaklumi ketika orang-orang perbatasan sulit mengakui bahwa mereka adalah bagian dari NKRI, karena pada kenyataannya, banyak yang melupakan tanah mereka.

Meskipun demikian, saya tetap bangga memliki Indonesia dengan segala apa yang ia punya. Negeri ini penuh dengan anugerah. Saya tidak khawatir sedikitpun akan hidup tanpa listrik. Tidak khawatir juga akan menempuh perjalanan panjang nan melelahkan. Rencananya, rombongan akan berangkat dari IPB menggunakan Bis. Rombongan akan diantar menuju bandara internasional Soekarno-Hatta. Saya jadi ingat akan apa yang saya tulis setahun lalu, bahwa dari bandara ini, saya akan membuat banyak sejarah baru, menumbangkan sejarah-sejarah sebelumnya.

natuna map

Jika semua lancar, pesawat yang kita tumpangi akan mendarat di Pontianak sekitar pukul 23.00 WITA. Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat. Sayang sekali kami akan terbang di malam hari. Selepas dari Bandara, kita akan menuju pelabuhan untuk naik kapal menuju Pulau Serasa, Natuna. Perjalanan direncanakan menghabiskan waktu 12 jam. Ketika menuliskan ini, saya terbayang akan keindahan jalanan yang akan saya lalui. Satu hal yang pasti, kehidupan jalanan akan mengajari saya mengenai banyak hal baru, utamanya tentang sesuatu yang bijak.

Saya menyesal karena belum sempat pulang dan berpamitan mohon doa restu dari orang tua dan keluarga. Belum juga berpamitan dengan teman-teman dikampung saya. Yang jelas, saya akan membawa banyak cerita buat mereka. Cerita yang akan menyadarkan banyak orang bahwa ada Natuna di Indonesia. Indonesia bukan hanya pulau Jawa. Ada banyak saudara kita yang hidupnya jauh dari keglamoran ibu Kota. Tunggulah kawan-kawan, akan kubawakan banyak cerita dari Natuna. Sekarang, Natuna, bersiaplah, kurang dari 48 jam kita akan berjumpa. Aku adalah bagian dari Indonesia. Kamu juga bagian dari Indonesia. Kita semua adalah Indonesia. Ini aku, terimalah aku!

 

Oleh

Luki Setyawan

NKRI Harga Mati (H-4 Menuju Natuna)

 

Pantai Sisi Natuna 2

Siang tadi saya baru saja berjumpa dengan pak Basri dan Pak Hardinsyah di AMG Connect, Fakultas Ekologi Manusia IPB. Beliau berdua datang dari Natuna, jauh-jauh datang ke Bogor untuk berjumpa dengan kami peserta KKP Natuna. Pak Hardin merupakan kepala Bappeda Kabupaten Natuna. Sebelum saya bertemu muka dengan mereka, saya sudah menyiapkan banyak sekali pertanyaan. Sesaat sebelum sesi tanya-jawab dimulai, saya masih menyiapkan deretan daftar pertanyaan saya mengenai Natuna, khususnya Pulau Kerdau yang akan saya tinggali saya tinggali selama dua bulan nanti. Akan tetapi, semenit kemudian, semua daftar pertanyaan saya tutup setelah mendengar teriakan lantang pak Hardin ketika menutup kuliah pembekalannya. “Sampai kapanpun, bagi kami masyarakat Natuna, NKRI adalah HARGA MATI!”

 

IMG_8892

Natuna terdiri dari beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Serasan dan Kecamatan Subi. Nama terakhir adalah daerah yang akan saya tinggali. Menyinggung cerita saya minggu lalu tentang Natuna, anggapan kehidupan “sulit” perbatasan ada benarnya. Transportasi adalah masalah utama untuk menyambangi pulau-pulau di Kab. Natuna. Lagipula, letak Pulau Ranai (Ibu kota Kabupaten) sangat jauh dari pulau yang akan saya tinggali nanti.

Meskipun demikian, bukan berarti saya lemah semangat. Justru setelah menghadiri kuliah pembekalan hari ini, semangat saya berkobar bak obor olimpiade. Semangat untuk MEMAHAMI Indonesia membuncah ruah keluar dari seluruh sela-sela rongga dada saya. Ada perasaan haru sekaligus malu. Malu kalau Nasionalisme saya kalah oleh orang-orang yang tinggal di perbatasan!

Tunggulah Natuna, tunggulah Subi, Tunggulah Kerdau, 4 hari lagi kita akan bertegur sapa. Tetaplah elok pantaimu, wahai Pantai Sisi di Pulau Serasan !

images (1)

8 Hari Menuju Natuna, Indonesia di Perbatasan

 

Delapan hari lagi, iya delapan hari lagi saya akan meninggalkan kota perantauan tercinta saya, Bogor untuk kemudian melanglang menuju pulau nan jauh diujung utara Indonesia, Natuna. Kepulauan indah di area sengekta Laut cina Selatan ini merupakan pagar terluar di sebelah utara yang memisahkan Indonesia dengan negara lain.

10301291_10203549807336160_8816580832127481939_n

Saya sudah memimpikan ini sejak lama, lebih dari setahun yang lalu. Saya sangat penasaran apakah benar kondisi perbatasan mengenaskan seperti yang diceritakan sutradara Dedi Mizwar ketika bedah film “Tanah Surga, Katanya” di IPB beberapa waktu lalu. Meskipun acara bedah film itu sarat dengan kontroversi karena mendekati pencalonannya sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat, muatan film itu sendiri memang patut diberi perhatian.

Dalam film itu diceritakan bagaimana kehidupan sebuah keluarga yang dipisahkan oleh perbatasan, Kalimantan. Sang ayah dan putri bungsu tinggal di Malaysia demi lehidupan yang lebih sejahtera. Sedangkan sang kakek dan cucu sulungnya setia menghuni pulau terpencil di ujung Kalimantan. Satu-satunya alasan tetap tinggal adalah rasa bangga dan cinta akan tanah air Indonesia.

134500145298447_496x330

Setelah menonton film itu, saya berpikir lama, memikirkan banyak hal tentang Indonesia, terutama tentang kehidupan perbatasan. Bagaimana kehidupan mereka? Apakah mereka menikmati listrik? Apakah mereka punya kendaraan transportasi? Apakah mereka menikamti televisi? Apa saja yang mereka lakukan di perbatasan?

Saya selalu berdoa untuk hal ini. Saya sangat ingin ikut merasakan suasana hidup di perbatasan yang jauh dari beragam fasilitas mewah. Puji Tuhan, Kuliah Kerja Profesi IPB (KKP) menempatkan saya di Pulau Kerdau, Kecamatan Subi, Natuna, terhitung sejak tanggal 21 Juni – 20 Agustus 2014. Ada rasa haru, waswas, senang, dan khawatir. Senang karena impian saya menjadi nyata. Khawatir apakah saya mampu bertahan dan beradaptasi disana.

Kerinduan terbesar saya bukanlah menikmati keindahan pulau dan pesisir Natuna, lebih dari itu, saya memimpikan banyak hal besar untuk Indonesia. Oleh karena itu, saya ingin lebih banyak memahami Indonesia dengan segala keberagamannya yang unik. Kehidupan perbatasan akan mengajari saya banyak hal. Tunggulah Natuna, 8 hari lagi kita akan berjumpa!

 

Oleh

Luki Setyawan

Disinilah kapal-kapal Singgah (Foto oleh Ibu Ninuk)

Disinilah kapal-kapal Singgah (Foto oleh Ibu Ninuk)

Suasana Pagi di pantai Subi, (Foto oleh Ibu Ninuk)

Suasana Pagi di pantai Subi, (Foto oleh Ibu Ninuk)